Kamis, 12 Januari 2012

[Indonesia-Rising] Permainan Benih Impor Sengsarakan Petani - Kegagalan Padi Hibrida

 



Benih-benih padi hibrida yang diimpor pemerintah untuk program Bantuan Langsung Bibit Unggul banyak yang bermasalah. Ratusan ribu hektare sawah yang ditanami padi-padi itu kerap mengalami gagal panen. Meski begitu, proyek impor benih ini tetap berjalan. Ada yang mengambil untung? --------

Di jalan setapak di tengah hamparan sawah yang menghijau, Purnomo Singgih, 46 tahun, dengan mantel biru dan sepeda motor bebeknya melaju menembus hujan deras.

Ketika ditemui GATRA, Minggu sore pekan lalu, ia baru saja pulang mengontrol sawahnya seluas 2,5 hektare di pinggir jalan raya Kebumen-Gombong. "Mulai masa tanamnya baru November kemarin," katanya kepada GATRA dengan logat Banyumas yang kental.

Purnomo adalah Koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejahtera di Desa Panjatan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Gapoktan ini menaungi 264 petani dari 11 desa, kendati yang aktif hanya 40-50 orang. Setiap bulan pada tanggal 5, mereka berkumpul di rumah Purnomo yang menjadi markas, untuk membahas berbagai masalah pertanian.

Topik hangat pada pertemuan kali ini adalah kabar akan turunnya bantuan benih padi hibrida untuk 50 hektare lahan pada musim tanam mendatang. Namun para petani sama sekali tidak antusias atas rencana ini. Rupanya mereka masih trauma dengan benih-benih hibrida.

Terakhir, mereka menanamnya pada Juli-Agustus 2011, dan hasilnya gagal total. "Pertama, rentan penyakit seperti wereng, blas, segala macam. Kedua, gabuk atau kopong nggak ada isinya. Ketiga, nilai jualnya rendah karena rendemen rendah," tutur Purnomo.

Pengertian bantuan pun sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Sebab para petani masih harus membeli benih hibrida itu. Harganya juga mahal, Rp 50.000 per kilogram, setelah mendapat subsidi dari pemerintah. Padahal, harga benih padi lokal hanya Rp 7.000 per kilogram.

Karena itu, para petani di Gapoktan Makmur Sejahtera sepakat untuk menolaknya. Musim ini, mereka sama sekali tidak menanam padi hibrida. "Ini sudah masuk kotak," kata Purnomo, seraya menunjukkan sekantong benih padi hibrida Intani-2 yang tak terpakai. Purnomo mengaku, dari segi kualitas, sebenarnya Intani-2 bagus. "Enak, pulen, dan wangi," katanya. Sayang, padi ini rentan hama seperti wereng, sundep, dan blas.

Meski banyak gagalnya, pemerintah seperti tidak kapok untuk terus menggunakan benih-benih impor tersebut. Bahkan, pada 2012, Kementan mengusulkan penambahan alokasi anggaran pengadaan benih hibrida sebesar Rp 252 milyar untuk areal seluas 300.000 hektare. Keruan saja, usulan ini ditolak Komisi Pertanian DPR-RI.

Anggota Komisi Pertanian DPR dari Fraksi Golkar, Siswono Yudo Husodo, mengatakan bahwa kemampuan produksi benih hibrida di dalam negeri hanya 36,79% atau hanya untuk kapasitas penggunaan seluas 107.000 hektare. Sedangkan untuk mencapai 300.000 hektare, dipastikan harus dipenuhi dari impor yang biasanya berasal dari Cina. "Sebaiknya dana itu tidak digunakan untuk impor benih hibrida, tapi untuk pengadaan benih nonhibrida di dalam negeri," kata Siswono.

Siswono menyatakan, Fraksi Golkar lebih setuju jika dana itu dialihkan untuk pembelian benih unggul nonhibrida. Apalagi, benih padi hibrida terhitung mahal, mencapai Rp 50.000 per kilogram. Sedangkan benih padi unggul nonhibrida hanya Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram. Rumor yang beredar menyebutkan, para anggota dewan juga keberatan lantaran penyebaran benih-benih hibrida ini tidak merata.

Kabarnya, Golkar sempat komplain karena beberapa daerah, seperti di Sulawesi Selatan yang merupakan basis Golkar, kesulitan mendapatkan benih itu. Belakangan, menurut sumber GATRA, ketahuan bahwa penyebaran benih itu kebanyakan dilakukan di daerah yang ketua gapoktannya berafiliasi ke partai tertentu. "Ya, ke partainya Pak Menteri," kata sumber itu. Maksudnya tentu Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Penyebaran bibit-bibit hibrida ini, kata sumber itu, menjadi bagian dari upaya PKS memperkuat basisnya di Jawa. Ini memang merupakan amanat musyawarah kerja nasional "partai dakwah" itu di Yogyakarta, medio Februari 2011. Wakil Sekjen PKS, Mahfudz Siddiq, ketika itu mengatakan, dalam menghadapi Pemilu 2014, PKS ingin memperkokoh basis dukungan di Pulau Jawa.

Karenanya, kata sumber itu, meski tersendat-sendat, proyek pengadaan benih hibrida ini terus dilakukan Kementan. Pengadaan benih ini dilakukan lewat dua BUMN, yaitu PT Sang Hyang Seri (SHS) dan PT Pertani. Pada 2011, SHS mendapat kontrak senilai Rp 496,69 milyar untuk proyek ini. Sedangkan Pertani mendapat kontrak senilai Rp 285,182 milyar. Pada tahun ini, telah disiapkan dana Rp 938,25 milyar khusus untuk pengadaan benih padi.


M. Agung Riyadi, Sandika Prihatnala, Haris Firdaus, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/10, terbit Kamis, 12 Januari 2012)


Pengalaman pahit terkait benih hibrida dirasakan Yudi Prasetyo, petani asal Desa Jambu Kidul, Klaten, Jawa Tengah. Menurut Yudi, ketika usia padi hibrida Intani-2 di lahan miliknya baru dua bulan, wereng mulai menyerang. Hanya dalam waktu 10 hari setelah serangan pertama, tanaman padi yang menjadi tumpuan hidupnya amblas. Ketika itu, kata Yudi, pemerintah menganjurkan penggunaan pestisida untuk membasmi wereng. Pemerintah memberi bantuan pestisida murah seharga Rp 10.000 per liter, meski harga hara sebenarnya Rp 40.000.

Namun upaya penyemprotan ini gagal. Setelah pestisida disemprotkan, serangan wereng justru makin hebat. "Di tempat saya, sebelum dikasih pestisida, masih hijau. Tapi, sesudah dikasih pestisida, dua hari saja sudah habis," tutur Yudi. "Biasanya saya bisa panen padi satu ton. Ini habis, tinggal di pinggir-pinggir saja," tambahnya.

Padi hibrida yang gagal bukan cuma Intani-2. Varietas lain seperi bernas prima, Arize, Sembada, dan Pioneer juga gagal total ketika ditanam. Sadiran, petani berusia 35 tahun, misalnya, ketika melakukan uji coba bertanam Arize, hasilnya ternyata sangat minim. Menurut petani asal Kecamatan Klirong, Kebumen, ini, dari lahan seluas 420 meter persegi, ia cuma bisa memanen padi 150 kilogram.

Padahal, dengan varietas lain seperti inpari-4, ia bisa menghasilkan 300-350 kilogram beras. "Risiko hibrida terlalu tinggi, hama gampang masuk," ujar Sadiran. Menurut Purnomo, dengan cara bertanam yang benar dan intensif, padi-padi lokal malah memberi hasil lebih baik. "Rata-rata 8-9 ton per hektare," tuturnya.

Di pasaran, harga beras lokal juga lumayan tinggi. Purnomo mengaku bisa menjual dengan harga Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram. Untuk beras hitam, ia bisa menjual dengan harga Rp 20.000-Rp 25.000 per kilogram dan beras merah-aromatik Rp 12.000-Rp 15.000 per kilogram. Kini Purnomo memiliki stok contoh 46 varietas bibit padi lokal, dan yang saat ini ditanam ada 22 jenis.
Benih-benih padi lokal juga kini banyak ditanam petani Klaten.

Menurut Wardiyono, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki di Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, padi hibrida tak berarti padi unggul. "Itu kan versi pemerintah. Bagi saya, bibit unggul itu, ya, bibit yang turun-temurun kita gunakan, yang bisa kita gunakan terus-menerus," katanya. Buktinya, ketika serangan wereng terhadap padi hibrida menghebat, pertengahan tahun lalu, padi-padi lokal yang ditanam bersama teman-temannya selamat. (MAR)

 

 

__._,_.___
Recent Activity:
** Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". **
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar